Malakaji, 22 September 2026 — Peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Gowa berlangsung dengan khidmat dan penuh makna. Acara ini dihadiri langsung oleh Kepala MAN Gowa, unsur Tripika, jajaran guru, tenaga kependidikan, tamu undangan, serta seluruh siswa-siswi yang memadati lokasi acara.
Tampil sebagai pembawa hikmah Maulid, Alimuddin, S.Pd.I., M.Pd., menyampaikan tausiyah yang menggugah hati. Dalam ceramahnya, ia merangkum esensi peringatan Maulid menjadi tiga pesan utama: Cinta Rasul, Teladani Akhlaknya, dan Eratkan Ukhuwah.
Pada poin pertama mengenai Cinta Rasulullah ﷺ, Alimuddin menegaskan bahwa cinta tidak cukup hanya sebatas ucapan atau sekadar melantunkan shalawat saat peringatan Maulid. Cinta sejati membutuhkan pembuktian dalam bentuk perilaku sehari-hari.
"Jangan hanya bibir kita mengatakan bershalawat, tetapi perilaku kita jauh dari akhlak Muhammad ﷺ. Cinta Rasul bukan sekadar seberapa sering nama beliau disebut oleh lisan kita, tetapi seberapa jauh akhlak Muhammad ﷺ hidup dalam diri kita," tegasnya.
Memasuki poin kedua, yakni Meneladani Akhlak Rasulullah ﷺ, ia menyoroti tiga sifat utama yang harus diaplikasikan oleh para siswa dan hadirin, yaitu jujur, cerdas, dan pemaaf. Alimuddin mengingatkan para siswa untuk selalu mengedepankan kejujuran dalam segala situasi, baik terkait nilai, tugas, maupun saat melakukan kesalahan.
"Lebih baik jujur dan mendapat teguran daripada berbohong lalu kehilangan kepercayaan," pesannya. Selain itu, kecerdasan yang dimiliki harus diimbangi dengan adab, bukan untuk menjatuhkan orang lain. Terkait sifat pemaaf, ia mengajak jamaah untuk berlapang dada dan tidak membiarkan kesalahan orang lain merusak hati sendiri.
Pada poin ketiga tentang Mengeratkan Ukhuwah, Alimuddin mengajak seluruh keluarga besar MAN Gowa untuk menghidupkan persaudaraan. Ia mengingatkan agar tidak ada lagi permusuhan, sikap saling menjatuhkan, atau aksi perundungan (bullying) di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
"Ukhuwah tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar. Mulailah dengan senyum, salam, menyapa, menghargai, menolong, dan memaafkan," ujarnya. Ia menekankan bahwa Maulid adalah momentum tepat untuk menyatukan hati antarguru, siswa, orang tua, hingga elemen masyarakat.
Menutup tausiyahnya, Alimuddin membagikan pesan mutiara untuk direnungkan oleh seluruh jamaah. Ia berharap peringatan Maulid ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan menjadi titik balik perubahan karakter.
"Jangan hanya jadikan Nabi Muhammad ﷺ sebagai tokoh yang kita kagumi; jadikan beliau sebagai akhlak yang kita hidupi. Mari kita tanamkan tekad: Cinta Rasul di hati, Akhlak Rasul dalam diri, Ukhuwah Rasul dalam kehidupan," pungkasnya yang diaminkan oleh seluruh hadirin.